Sunday, May 13, 2018

Telinga Kita Bisu | Cerpen | Dedi Triyanto



Selarut itu ia melarutkan diri pada lamunan panjang, tepat di sudut warung kopi yang dipadati muda-mudi yang sedang bersendagurau. Sempurnalah sudah alam semesta tatkala telinga mungilnya tersumpal headset.

Ingar bingar dunia tak selamanya selaras dengan suasana hati manusia, kadang bising hanya serupa hembusan angin berdesing yang berbisik-bisik tentang renungan, menyeret entitas manusia pada dejavu kenangan lama. Begitulah nuansa yang sedang dialami gadis berambut lurus tersebut.

Namanya Fluvenia, kerap dipanggil Venia. Ia adalah karyawan di sebuah perusahaan ternama yang bergerak di bidang advertising di kota Barat. Akhir-akhir ini Venia jengah dengan jobdesk yang menumpuk di atas meja kerjanya, bahkan kerjaannya sampai dibawa pulang sebagai bingkisan kecil nan imut dari kantornya, membuat suasana hati gadis berumur 24 tahun tersebut tak keruan.

Mahasiswi lulusan universitas ternama jurusan broadcasting tersebut menghabiskan detik demi detik di sudut warkop tanpa tau apa yang dilamunkan, kosong tak bermakna, waktu terburai begitu saja.

Banyak pendapat yang mengungkapkan bahwa melamun merupakan sebuah kebiasaan buruk bagi manusia, namun lain halnya bagi Venia. Baginya melamun adalah sebuah kedamaian--pembelaan konyol namun realistis.

Sedang asik-asiknya melamun, tiba-tiba datang seorang gadis duduk di samping Venia dan diam-diam melepaskan sebelah headsetnya, mencoba menjawab rasa penasaran tentang apa yang sebenarnya  didengarkan. Gadis tersebut merupakan sahabat Venia sewaktu kuliah, namanya Gheira. Sementara Venia tetap melanjutkan ritual lamunannya tanpa sedikitpun sadar bahwa ada seseorang di sampingnya. Sementara itu Gheira bingung seribu bahasa, pasalnya ia tak mendengarkan apapun dari headset yang dirampasnya tadi.

Sebenarnya Venia memang sedang mendengarkan sebuah lagu, cuma kesalahannya adalah headset tersebut memang hanya berfungsi sebelah saja. Entah siapa yang salah, namun Gheira malah ikut terlarut dalam lamunan panjangnya. Gheira memikirkan tentang apa makna headset yang tak ada suaranya tersebut.

Sungguh, berbunyi sebelah suara memang tak mengenakkan. Menjadi mulut pada telinga yang tak ingin mendengar, menjadi telinga pada mulut yang tak ingin berkata, maka bisulah telinga kita.


- Dedi Triyanto

BERITA LENGKAP DI HALAMAN BERIKUTNYA

Halaman Berikutnya

2 komentar