Friday, May 11, 2018

Arif dan Seekor Monster Rubah [Part I] Cerpen oleh Dedi Triyanto



Malam hari telah tiba, seperti biasanya seorang Ibu perkotaan menceritakan sebuah dongeng pengantar tidur bagi anak-anak mungilnya. Begitu pula yang sedang dilakukan Bunda Pertiwi pada kedua anaknya, si sulung Rinjani dengan perawakan yang tinggi, rambut keriting dan seorang anak bungsunya bernama Mahakam dengan kulit langsat dan senyum melintangnya, keduanya merupakan anugerah terindah yang diberikan Tuhan kepada bunda Pertiwi.

Selimutnya hangat, sehangat sinar mentari di bumi Khatulistiwa, dibukanya lembar demi lembar buku dongeng pengantar tidur itu, kali ini bunda pertiwi ingin menceritakan sebuah kisah nan hebat kepada kedua anaknya. Dibukalah sebuah pra-kata “ehem” oleh bunda tercinta Rinjani dan Mahakam, sontak membuat binaran mata kedua bocah mungil itu terpaku pada bibir ibunya.

Pada suatu hari di sebuah desa terpencil di negeri utopia yang indah gemulai, terdapat seorang anak laki-laki yang ramah dan rendah hati, orang kampong memanggilnya Arif, sebutan yang pas untuk anak seperti dia. Arif adalah anak yang suka bertualang ke dalam hutan, mencari jejak-jejak kedamaian alam untuk dijamahnya. Tak jarang pula ia berenang ria diantara gemulainya sungai-sungai yang mengalir, menyelam hingga dasar kesempurnaan ciptaan Tuhan, “syahdu nya negeriku” gumam Arif dengan mimik wajah yang sumringah.

Utopia, sebuah negeri yang konon katanya merupakan surga, dimana lautan bak kolam susu, tak jarang pula orang memberikan gelar negeri yang sangat subur dan makmur, sebab dengan tongkat kayu dan batu saja bisa menjadi tanaman.  Tak ditemuinya pula segala murka layaknya auman badai dan topan di negeri ini.

Malam itu di kampung Angan, sebuah desa terpencil yang Arif tinggali diselimuti keresahan oleh para warganya. Sebab ada rumor tentang sesosok monster rubah yang sering memporakporandakan ladang para petani. Sementara Arif dengan gagahnya berkata “mana rubahnya?, biar aku lawan dengan jurus tangguhku”, dengan percaya diri Ia membusungkan dadanya. Menurut rumor yang beredar monster rubah tersebut memiliki kekuatan tangguh yang konon disebut-sebut dengan taring berdarah. Sebuah kekuatan yang dapat melumpuhkan seisi desa.

Tengah asik-asiknya berimaji, tiba-tiba Reno menyela cerita yang dituturkan Kayanda kepadanya,
"Stop, imajinasimu jelek sekali Kay" membuyarkan cerita khayalan seru antara kedua sahabat tersebut. "Jelek katamu? yang bagus kayak gimana dong?" Kayanda seolah tak terima dengan komentar pedas yang dilontarkan Reno.
"Yaudah, lanjutin lagi deh ceritanya" jawab Reno dengan spontanitas.
"Ah palingan juga kamu penasaran kan Ren? alibimu jelek sekali deh".
dengan maksud mengalah sebagai seorang lelaki sejati akhirnya Reno pura-pura bertekuk lutut di hadapan Kayanda sembari berkata "Penasaran katamu? hmmm.. iya sih hehe, yaudah lanjutin dong!".

*Bersambung...

BERITA LENGKAP DI HALAMAN BERIKUTNYA

Halaman Berikutnya